LATAR BELAKANG DAN TEKNIK PENULISAN SITASI


citationneededWeinstock merumuskan beberapa alasan mengapa para pengarang/ilmuan perlu menyitir karya-karya ilmuan sebelumnya. Ia mencatat ada 15 alasan penting, yaitu :

  1. memberikan penghormatan kepada para pelopor;
  2. memberikan penghargaan terhadap karya bersangkutan;
  3. mengindentifikasi metodologi, pendekatan teori, sarana, dan sebagainya;
  4. memberikan latar belakang bacaan;
  5. mengoreksi karya sendiri;
  6. mengoreksi karya orang lain;
  7. memberikan kritik terhadap karya-karya sebelumnya;
  8. memperkuat klaim/tuntutan penemuan tentang sesuatu;
  9. mempermaklumkan tentang karya yang akan diterbitkan;
  10. memberikan petunjuk kepada karya yang penyebarannya terbatas, tidak diindeks, atau jarang dikutip oleh orang lain;
  11. membuktikan keaslian data dan serangkai fakta;
  12. mengindentifikasi terbitan asli dimana suatu ide atau konsepnya dibahas;
  13. mengidentifikasi terbitan asli atau karya yang menggambarkan sebuah konsep atau istilah yang lazim berlaku dalam masyarakat;
  14. membantah karya atau pendapat/gagasan oring lain;
  15. membantah tuntutan lain menurut prioritas.

Dari beberapa alasan yang disebutkan di atas, Smith mengelompokan menjadi dua kelompok alasan, yaitu alasan penghargaan dan alasan ilmiah. Sebagai alasan ilmiah, dikatakan bahwa adanya sitiran merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam penciptaan sarana penyebarluasan informasi. Sehubungan dengan itu, Martyn dan Lancaster, menyebutkan bahwa apapun yang disebut sebagai sebuah sitiran yang adanya pada bagian akhir dari suatu karya ilmiah, adalah merupakan suatu catatan yang memberikan indikasi bahwa penulis atau pengarang karya tersebutnya sedikitnya telah menggunakan literatur yang disitirnya itu sebagai bahan rujukan untuk mendukung sebagian atau keseluruhan karya ilmiahnya. Oleh karenanya, sudah merupakan kewajiban moral dan akademis bagi mereka untuk mengungkapkan secara jujur dan jelas karya–karya atau sumber–sumber informasi yang digunakan untuk mendukung karyanya yang dibuat itu.

Menurut Judy Hunter dari Grinnel College dalam tulisannya yang berjudul “The importance of Citation” menyatakan bahwa setidaknya ada tiga alasan mengapa sitiran itu penting yaitu:“Pertama, karena ide-ide yang dituangkan dalam satu tulisan adalah merupakan ‘mata uang’ bagi seorang akademisi, artinya semakin banyak sitiran dilakukan maka kredit terhadap kontribusi idenya semakin banyak. Kedua, karena tidak melakukan kutipan dengan benar akan merusak hak-hak orang yang mempunyai ide pertama kali. Ketiga, karena ada kebutuhan untuk melakukan pelacakan atau penelusuran terhadap perkembangan suatu ide atau teori.”

Tehnik penulisan Sitasi

Pada dasarnya ada 2 teknik penulisan sitasi:

1. Catatan langsung (catatan perut)

Catatan perut ditulis langsung di dalam baris-baris naskah, yang berisi alamat rujukan singkat dari bahan yang diacu, yaitu: nama pengarang, tahun penerbitan, dan halaman. Untuk artikel jurnal, artikel media massa, atau makalah, tidak perlu dicantumkan nomor halamannya.

Contoh: berelson (1952) mendefinisikan analisis isi sebagai “teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara obyektif, sistematik dan kuatitatif isi komunikasi yang tampak,”.
Sedangkan para ahli yang lain menyatakan, analisis isi adalah sebuah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi dengan mengidentifikasi secara sistematik dan obyektif terhadap karakteristik-karakteristik khusus pada sebuah teks (stone et al., 1966:5).

2.Catatan kaki (footnotes)

catatan akhir (endnotes) Footnotes dan endnotes ditulis terpisah dari baris-baris naskah.

  • Catatan Kaki (Footnotes): Diletakkan di bagian bawah halaman, dipisahkan dari naskah utama menggunakan garis. Informasi referensi yang dituliskan di dalam catatan kaki adalah: nama pengarang (tidak dibalik susunannya) , judul, penerbit, kota, tahun, dan halaman. Untuk sumber berupa makalah atau artikel jurnal/media massa, tidak perlu menuliskan nomor halamannya.

Contoh: Berelson mendefinisikan analisis isi sebagai “teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara obyektif, sistematik dan kuatitatif isi komunikasi yang tampak.”1=> 1 Benard Berelson, Content Analysis in Communications Research, Free Press, New York, 1952, hal. 18.

  • Catatan akhir (endnotes) : Catatan akhir sama dengan teknik penulisan catatan kaki. Perbedaannya terletak pada penempatan catatan. Endnotes diletakkan terpisah di bagian akhir tulisan atau bab (chapter).

Contoh: Berelson mendefinisikan analisis isi sebagai “teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara obyektif, sistematik dan kuatitatif isi komunikasi yang tampak.”1 => 1 Benard Berelson

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s