LATAR BELAKANG DAN TEKNIK PENULISAN SITASI


citationneededWeinstock merumuskan beberapa alasan mengapa para pengarang/ilmuan perlu menyitir karya-karya ilmuan sebelumnya. Ia mencatat ada 15 alasan penting, yaitu :

  1. memberikan penghormatan kepada para pelopor;
  2. memberikan penghargaan terhadap karya bersangkutan;
  3. mengindentifikasi metodologi, pendekatan teori, sarana, dan sebagainya;
  4. memberikan latar belakang bacaan;
  5. mengoreksi karya sendiri;
  6. mengoreksi karya orang lain;
  7. memberikan kritik terhadap karya-karya sebelumnya;
  8. memperkuat klaim/tuntutan penemuan tentang sesuatu;
  9. mempermaklumkan tentang karya yang akan diterbitkan;
  10. memberikan petunjuk kepada karya yang penyebarannya terbatas, tidak diindeks, atau jarang dikutip oleh orang lain;
  11. membuktikan keaslian data dan serangkai fakta;
  12. mengindentifikasi terbitan asli dimana suatu ide atau konsepnya dibahas;
  13. mengidentifikasi terbitan asli atau karya yang menggambarkan sebuah konsep atau istilah yang lazim berlaku dalam masyarakat;
  14. membantah karya atau pendapat/gagasan oring lain;
  15. membantah tuntutan lain menurut prioritas.

Continue reading

APA ITU SITIRAN ATAU CITATION?


sitasi Konsep Sophia (2002) menyatakan bahwa arti sitasi atau citation adalah:

  1. Action of any word or written passage, quotation
  2. A reference to a passage in a book
  3. To cie (a book, atu etc) for a particular statemen or passage.
  4. To copy or repeat ( a passage, statement, etc) from book, document, speech, etc with some indication that one is giving a word of another.

Continue reading

RECALL DAN PRECISION DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI


recall (perolehan) precision (ketepatan) 2

recall (perolehan) & precision (ketepatan)

Pendit (2008) berpendapat bahwa OPAC sebagai mesin pencari informasi juga membawa persoalan tentang relevansi karena secanggih apapun sebuah mesin akan sulit untuk memahami rumitnya pikiran manusia. Sehingga ilmuwan berusaha untuk menciptakan formula agar bisa membuat sistem yang bisa diandalkan, mampu mengukur efektifitas sistem dalam memenuhi permintaan informasi serta dapat mengetahui informasi yang relevan dengan kebutuhan pengguna (pencari informasi) dalam sebuah sistem. Oleh sebab itu, akhirnya ilmuwan membuat rumus recall dan precision untuk mengukur efektifitas sistem temu kembali informasi. Continue reading

ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOGUE (OPAC): PENGANTAR


OPAC2

Corbin (1985) menyatakan bahwa OPAC merupakan katalog yang berisikan cantuman bibliografi dari koleksi satu atau beberapa perpustakaan, disimpan pada magnetic disk atau media rekam lainnya, dan dibuat tersedia secara online, dan sebagai sarana untuk dapat memeriksa status dari suatu bahan perpustakaan. Sedangkan Horgan (1994) menyatakan, OPAC adalah suatu sistem temu kembali informasi, dengan satu sisi masukan (input) yang menggabungkan pembuatan file cantuman dan indeks. Hal ini menghasilkan pangkalan data yang dapat ditelusur sebagai sisi keluaran (output) dari sistem. OPAC menyediakan akses umum kepada file pangkalan data yang dimiliki perpustakaan. Melalui OPAC pengguna berinteraksi untuk memeriksa isi file yang ada. Sementara itu Feather (1997) menyatakan bahwa OPAC adalah suatu pangkalan data cantuman bibliografi yang biasanya menggambarkan koleksi perpustakaan tertentu. Continue reading

SEJARAH PERKEMBANGAN ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOGUE (OPAC)


Don R. Swanson

Don R. Swanson

Shiao-Feng Su (1994) menyatakan, perkembangan sistem OPAC dipengaruhi oleh visi Don Swanson. Pada tahun 1964 Swanson menerbitkan artikel dengan judul Dialogues with Catalog, yang mempresentasikan pemikirannya tentang bagaimana seharusnya sistem katalog perpustakaan di masa mendatang. Swanson secara cemerlang menguraikan interaksi (dialogue) yang ideal diantara seorang pengguna perpustakaan dengan console,(suatu jenis terminal yang dapat menemu balikkan berbagai jenis informasi bibliografi, dan mungkin informasi lainnya). Melalui console, pengguna akan dapat berdialog dengan pangkalan data, dan melakukan penelusuran informasi. Pengguna diharapkan akan merasa puas terhadap dialog tersebut, karena informasi bibliografis yang dibutuhkan dapat diperoleh lebih cepat. Continue reading

KOMPONEN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI


pada prinsipnya menurut Houghton (1977) sistem temu kembali informasi adalah penelusuran yang merupakan interaksi antara pemakai dan sistem dan pernyataan kebutuhan pengguna diekspresikan sebagai suatu istilah tertentu. Selanjutnya dinyatakan bahwa komponen fundamental dari sistem temu kembali informasi adalah sebagai berikut:

  1. penyimpanan (storage), yaitu menyangkut analisis subjek oleh pengindeks dan penerjemahan dari istilah ke dalam bahasa pengindeksan oleh sistem.
  2. proses temu kembali (retrieval), yaitu berkaitan dengan analisis dan pernyataan penelusuran; penerjemahan pertanyaan dalam bahasa pengindeksan oleh sistem; serta formulasi dari strategi penelusuran diekspresikan sebagai suatu istilah tertentu.

Lancaster (1979) dan Doyle (1975) memandang sistem temu-kembali informasi dalam konteks siklus transfer informasi, mengatakan bahwa suatu sistem temu-kembali informasi merupakan subsistem (tahap luaran) dari sistem informasi. Lancaster juga mengatakan bahwa sistem temu-kembali informasi terdiri dari enam subsistem: Continue reading