ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOGUE (OPAC): PENGANTAR


OPAC2

Corbin (1985) menyatakan bahwa OPAC merupakan katalog yang berisikan cantuman bibliografi dari koleksi satu atau beberapa perpustakaan, disimpan pada magnetic disk atau media rekam lainnya, dan dibuat tersedia secara online, dan sebagai sarana untuk dapat memeriksa status dari suatu bahan perpustakaan. Sedangkan Horgan (1994) menyatakan, OPAC adalah suatu sistem temu kembali informasi, dengan satu sisi masukan (input) yang menggabungkan pembuatan file cantuman dan indeks. Hal ini menghasilkan pangkalan data yang dapat ditelusur sebagai sisi keluaran (output) dari sistem. OPAC menyediakan akses umum kepada file pangkalan data yang dimiliki perpustakaan. Melalui OPAC pengguna berinteraksi untuk memeriksa isi file yang ada. Sementara itu Feather (1997) menyatakan bahwa OPAC adalah suatu pangkalan data cantuman bibliografi yang biasanya menggambarkan koleksi perpustakaan tertentu.

opacDalam kamus istilah perpustakaan, Lasa HS (1998) menyebutkan bahwa OPAC adalah suatu database dari record-record catalog yang diakses oleh pencari informasi. OPAC ini berfungsi sebagai katalog terpasang (online catalog) yang dapat diakses secara langsung oleh pencari informasi di perpustakaan. Sedangkan dalam ALA Glosary of Library and information science dijelaskan bahwa OPAC adalah cantuman bibliografi dalam bentuk mesin terbaca yang dapat dibaca dan disimpan dalam sistem komputer, sehingga pemakai dapat mengakses informasi secara terus menerus dengan pendekatan pengarang, judul, subjek atau gabungan dari komponen-komponen yang disebutkan. Selain itu, Dalam Dictionary of Library and Information Management menyebutkan bahwa OPAC adalah sistem katalog perpustakaan berbasis elektronik yang bisa digunakan melalui terminal komputer untuk mencari informasi atau koleksi.

Reitz (2004) dalam kamus ODLIS mengatakan bahwa OPAC merupakan akronim untuk akses katalog online bagi publik. OPAC merupakan sebuah database yang terdiri dari catatan bibliograpi dengan menggambarkan buku-buku dan bahan-bahan lain yang dimiliki oleh sistem perpustakaan atau perpustakaan, diakses melalui terminal umum atau workstation biasanya terkonsentrasi di dekat meja referensi untuk memudahkan bagipengguna dalam meminta bantuan dari pustakawan referensi. Katalogonline kebanyakan ditelusur melalui pengarang, judul, subyek, kata kuncidan memungkinkan pengguna untuk mencetak, men-download, atauekspor catatan ke account e-mail.OPAc_Library300

OPAC menurut Tedd (2004) adalah sistem katalog terpasang yang dapat diakses secara umum, dan dapat dipakai pengguna untuk menelusur pangkalan data katalog, untuk memastikan apakah perpustakaan menyimpan karya tertentu, untuk mendapatkan informasi tentang lokasinya, dan jika sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi, maka pengguna dapat mengetahui apakah bahan pustaka yang sedang dicari sedang tersedia di perpustakaan atau sedang dipinjam. Sedangakan, menurut Supriyanto (2008) OPAC yaitu sebuah fitur atau fasilitas yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pengunjung web untuk mencari katalog koleksi, perpustakaan yang dapat diakses secara umum. Sehingga kita dapat mencari koleksi yang kita inginkan dengan menggunakan kata kunci judul, pengarang, subjek, nomor klasifikasi dan sebagainya.

 Darmono (2008) berpendapat bahwa katalog online atau OPAC adalah sistem katalog perpustakaan yang menggunakan komputer. Pangkalan datanya dirancang dan dibuat sendiri oleh perpustakaan dengan menggunakan perangkat lunak buatan sendiri, maupun menggunakan perangkat lunak komersial. Sesuai dengan namanya katalog online ini berfungsi seperti layaknya sebuah katalog yaitu sebagai sarana penelusuran koleksi milik suatu perpustakaan. Katalog ini memberikan informasi bibliografis serta lokasi suatu buku diperpustakaan. Katalog online merupakan terobosan yang luar biasa dibidang perpustakaan karena dapat memberikan titik akses (access point) dari segala aspek pendekatan pada data katalog. Bahkan untuk menghasilkan pencarian yang lebih akurat biasanya bisa menggunakan logika Bolean yang berupa AND, OR, NOT.

Pendit (2009) mengatakan bahwa kata OPAC perlu dicermati karena ini memperlihatkan karakteristik awal komputerisasi perpustakaan:

  • Kata On Line menandakan bahwa di antara manusia dan sumber informasi ada jarak yang diperantai oleh serangkaian kabel atau perangkat lain yang nir-kabel alias wireless.
  • Kata public menandakan bahwa fasilitas ini dapat digunakan beramai-ramai secara bersamaan.
  • Kata access merujuk ke situasi tanpa antrian, sebab sebuah server dapat dijangkau oleh ribuan (atau bahkan jutaan orang) secara bersamaan dari tempat yang berbeda-beda.
  • Kata catalog itu menandakan bahwa fasilitas ini adalah seperti namanya, yaitu sebuah katalog.

Tujuan dan Fungsi OPAC

 Siregar (2004) menyatakan bahwa peralihan katalog manual ke bentuk online, disamping banyak menghemat waktu pengguna dalam penelusuran, juga mampu meningkatkan efisiensi pekerjaan pengatalogan bahan perpustakaan baru. Katalog elektronik terbukti juga mampu mempromosikan koleksi perpustakaan sehingga penggunaannya semakin tinggi. Sedangkan Kusmayadi (2006) menjelasakan bahwa tujuan dan fungsi peralihan katalog manual ke bentuk online adalah;

  1. Pengguna dapat mengakses secara langsung ke dalam pangkalan data yang dimiliki perpustakaan.
  2. Mengurangi beban biaya dan waktu yang diperlukan dan yang harus dikeluarkan oleh pengguna dalam mencari informasi.
  3. Mengurangi beban pekerjaan dalam pengelolaan pangkalan data sehingga dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja Mempercepat pencarian informasi.
  4. Dapat melayani kebutuhan informasi masyarakat dalam jangkauan luas.

Fasilitas OPAC

Hendro Wicaksono dkk (2011) mengatakan bahwa OPAC memiliki 5 manfaat yaitu sebagai berikut:

  1. Penelusuran Sederhana, yaitu pencarian bahan perpustakaan dengan menggunakan berbagai titik akses, misalnya pengarang, judul, subyek, lokasi dan status. Pencarian ini dimaksudkan memudahkan pengguna dalam menelusur secara acak.
  2. Penelusuran Spesifik, Jenis penelusuran ini, pengguna diharapkan lebih spesifik mencari bahan perpustakaan melalui titik akses baik pengarang, judul, subjek dan lainnya. Perbedaannya pada lebih spesifiknya pencarian sehingga pengguna disuguhkan dengan hasil yang diinginkan dan sesuai yang dikehendaki. Model ini sebenarnya memudahkan pengguna bagi yang mengerti menggunakannya, karena lokasi yang disediakan di dalam OPAC sangatlah sesuai dengan lokasi bahan perpustakaan disimpan.
  3. Informasi Penggunaan, Fasilitas ini merupakan fasilitas dimana pengguna bisa mengetahui bahan perpustakaan yang dipinjam karena terhubung dengan modul sirkulasi, juga dapat mengetahui masa berlakunya kartu anggota karena dihubungkan dengan modul anggota dan lain sebagainya.
  4. Administrasi Perpustakan, Fasilitas ini merupakan promosi perpustakaan dan berbagai informasi penggunaan OPAC secara menyeluruh, di dalamnya bisa berisikan segala informasi tentang visi dan misi, struktur organisasi, fasilaitas layanan lain dan sebagainya. Justru yang menarik bila OPAC dilengkapi informasi seluruh cara pemakaiannya sehingga pengguna dapat memahami secara mandiri tentang berbagai penggunaan yang ada di OPAC tersebut.
  5. Link ke Perpustakaan Lain, Fasilitas ini dilakukan bertujuan pengguna dapat merujuk ke beberapa perpustakaan atau lembaga informasi lainnya berkaitan dengan bahan perpustakaan yang diinginkan tidak ditemukan di perpustakaan tersebut. Pihak perpustakaan dapat membuat link keberbagai perpustakaan yang lainnya dengan begitu kepuasan pengguna dapat terealisasi.

Supriyanto (2008) mengatakan bahwa dalam layanan OPAC harus memiliki fitur yang bersifat mudah, fleksibel dan akurat. Adapun fitur tersebut meliputi :

  1. Home page OPAC (Online Public Acces Catalog)
    1. Pencarian simple search
    2. Pencarian advance search
    3. Menampilkan detail katalog
    4. Menampilkan status ketersediaan buku.
  1. Pencarian buku baru
    1. Pemesanan/usulan buku
    2. Download data digital (abstraksi/fullteks)

Penelusuran Pada OPAC

Menurut Saleh (1996) Teknik penelusuran OPAC terbagi dalam lima bagian, yaitu sebagai berikut:

  1. Penelusuran dengan kamus istilah. Yakni penelusuran menggunakan istilah yang sudah dibuat oleh CDS/ISIS pada saat mengindeks suatu ruas/sub ruas.
  2. Penelusuran bebas. adalah pengguna bebas mengetikkan apa saja yang ingin dicari karena sistem ini merupakan pengganti katalog.
  3. Penelusuran dengan ekspresi Boolean Penelusuran dengan ekspresi Boolean ini memungkinkan pengguna untuk menemukan kembali informasi yang lebih tepat sesuai dengan apa yang diinginkan.

Sementara itu, Siregar (2004) menyatakan bahwa di samping akses melalui pengarang, judul, dan subjek, OPAC juga menawarkan misalnya akses melalui nomor panggil (call number) dan penerbit di tambah dengan logika boolean (boolean logic) berupa AND, OR, NOT dan batasan penelusuran oleh bahasa atau format dokumen. Selanjutnya, Hasugian (2007) mengemukakan ada beberapa jenis penelusuran yang dapat dilakukan melalui OPAC, yaitu :

  1. Penelusuran dengan merawak (browse searching), yaitu menelusur dengan memeriksa satu persatu cantuman (record) dari dokumen yang ada, proses ini memang akurat, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga kurang efisien untuk dilakukan.
  2. Penelusuran kata kunci (keyword searching), yaitu penelusuran dengan menggunakan kata kunci (keyword) tertentu sebagai query. Kata kunci tersebut adalah berupa istilah/ kata yang dirumuskan secara bebas (uncontrolled vocabulary) dan kata/istilah yang baku/standard (controlled vocabulary).
  3. Penelusuran terbatas (limited searching), yaitu penelusuran dengan melakukan pembatasan kepada ruas data tertentu, pembatasan database tertentu, pembatasan tahun tertentu, pembatasan bahasa negara dan sebagainya.

Kriteria OPAC

Crowford (1987) menyarankan beberapa kriteria yang diperlukan untuk OPAC yang baik, antara lain:

  1. Layar monitor yang ditampilkan pada level pertama seharusnya memperkenalkan perpustakaan yang bersangkutan. Layar harus jelas sehingga dapat menimbulkan minat dari pengguna pemula dan yang berpengalaman untuk menggunakannya.
  2. Sebuah OPAC sebaiknya selalu memberikan indikasi kepada pemakai langkah demi langkah; di level mana mereka sekarang, bagaimana mereka sampai ke situ, dan ke mana mereka selanjutnya.
  3. OPAC seharusnya menghindari penggunaan “jargon‟ atau istilah dan kata-kata yang tidak baku.
  4. Jumlah hasil penelusuran harus dapat ditampilkan di layar.
  5. Fasilitas “help‟ atau bantuan harus selalu tersedia pada layar monitor di setiap level searching.
  6. OPAC harus memberi respon yang cepat dan tepat dari setiap permintaan.

Kelebihan dan Kekurangan OPAC

Fattahi menyatakan bahwa OPAC memiliki beberapa kelebihan dari katalog kartu yaitu sisi penelusuran mencakup interaksi (interaction), bantuan pengguna (user assistance), kepuasan pengguna (user satisfaction), kemampan penelusuran (searching capabilities), keluaran dan tampilan (out and display), ketersediaan dan akses (availability and access). Sedangkan Selanjutnya menurut Hermanto (2007) OPAC memiliki kelebihan diantaranya yaitu :

  1. Penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
  2. Penelusuran dapat dilakukan dimana saja tidak harus datang ke perpustakaan dengan catatan sudah online ke internet.
  3. Menghemat waktu dan tenaga.
  4. Pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak.
  5. Pengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan perpustakaan.

Sedangkan Qalyubi dkk (2007) mengatakan bahwa kelebihan OPAC adalah sebagai berikut:

  1. Penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
  2. Penelusuran dapat dilakukan bersama-sama tanpa saling mengganggu.
  3. Jajaran tertentu tidak perlu di-file
  4. Penelusuran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sekaligus, misalnya lewat judul, pengarang, subjek, tahun terbit, penerbit dan sebagainya, yaitu dengan memanfaatkan penelusuran Boolean Logic.
  5. Rekaman bibliografi yang dimasukkan ke dalam entri katalog tidak terbatas.
  6. Penelusuran dapat dilakukan dari beberapa tempat tanpa harus mengunjungi perpustakaan,yaitu dengan menggunakan jaringan LAN (Local Area Network) atauWAN (Wide Area Network).

Murphy (1995) menyatakan bahwa OPAC adalah katalog yang paling cocok saat ini digunakan di perpustakaan. OPAC jauh melebihi katalog kartu dan katalog lainnya yang digantinya. Katalog kartu memiliki sejumlah keterbatasan dibanding dengan OPAC. Sekalipun fungsi dasarnya sama yaitu sebagai sarana temu kembali informasi di perpustakaan, namun diantara katalog kartu dan OPAC terdapat perbedaan, antara lain:

NO OPAC Katalog Kartu atau Kartu Manual Lainnya
1 Cantuman Bibliografi dapat ditelusur dalam berbagai cara dan dapat ditampilkan pada berbagai bentuk format tampilan. Cantuman Bibliografi hanya dapat ditelusur dalam satu cara dan hanya tampil dalam format yang sama.
2 Interaktif (komunikasi computer dengan pemustaka) dalam suatu mode atau cara yang bersifat dialog. Bersifat pasif/statis.
3 Dapat memberi reaksi dan merespon pemustaka dalam suatu cara yang cerdas. Pemustaka yang harus bergerak aktif
4 Dapat digunakan untuk menunjukkan pilihan penelusuran yang tersedia, mengoreksi pengoperasian yang salah. Pendekatan alternative ini tidak dapat dilakukan melalui katalog kartu.
5 Menunjukkan alternative dokumen yang cocok dengan criteria penelusuran dan menuntun pemustaka selama melakukan penelusuran. Pendekatan alternative ini tidak dapat dilakukan melalui katalog kartu.
6 Mampu menyediakan bantuan pemustaka dalam berbagai cara dan tingkatan, yang langsung bisa dibaca pengguna pada system, terdiri dari: bantuan temu balik (retrieval aids), bantuan bahasa (linguistic aids), bantuan menjelajah (navigational aids), dan bantuan arti kata (semantic aids). Katalog Kartu tidak mampu memberikan fasilitas seperti yand ada pada OPAC.
7 Dengan OPAC, umumnya pengguna merasa: menyenangkan, menghemat waktu, menyediakan layanan baru, menyediakan cirri khas baru yang baru, (Markey, 1993).
8 Penelusuran dapat dilakukan berdasarkan : kata kunci ke semua ruas, menggunakan operator Boolean, dan biasanya menawarkan atau menyediakan akses yang luas kepada seluruh cantuman bibliografi. Sistematis dan bervariasi. Penelusuran dapat dilakukan berdasarkan : subjek, judul, atau pengarang saja.
9 Bentuk dan isi tampilan bibliografi dimungkinkan berada pada format yang fleksibel, dengan kemungkinan tampilan informasi bibliografi dalam berbagai variasi dan pada level yang berbeda. Bentuk dan isi tampilan bibliografi selalu berada pada format yang sama.
10 Tingkat Deskripsi bibliografi pada OPAC biasanya luwes dan bisa didesain sesuai dengan kebutuhan pengguna. Sedangkan bila menggunakan katalog kartu, hal itu tidak dapat dilakukan.
11 Dapat diakses melalui terminal pada tempat yang berbeda dari dalam atau luar gedung perpustakaan, melalui local area networks (LAN) dan wide area networks (WAN). Sedangkan bila menggunakan katalog kartu atau kartu manual lainnya, hal itu tidak dapat dilakukan.
12 Pemustaka yang berbeda, yang berada di dalam atau di luar gedung perpustakaan dimungkinkan menggunakan system OPAC secara bersama, sekalipun menelusur cantuman yang sama pada waktu yang bersamaan. Sedangkan bila menggunakan katalog kartu, hal itu tidak dapat dilakukan.

Dari berbagai kelebihan di atas OPAC juga memiliki kekurangan. Sebagaimana dinyatakan oleh Hermanto (2007) adalah :

  1. Belum semua bahan perpustakaan masuk ke data komputer sehingga pengguna mengalami kesulitan dalam melakukan penelusuran.
  2. Tergantung aliran listrik, bila listrik mati maka kegiatan penelusuran bahan perpustakaan akan terganggu.

Referensi:

Hasugian, Jonner. (2007). Katalog perpustakaan dari katalog manual sampai OPAC. Medan: UPT Perpustakaan USU.

Lasa HS, Kamus istilah perpustakaan. Yogyakarta: Gajah mada university press, 1998.

Supriyanto, Wahyu. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan: Strategi Perancangan Perpustakaan Digital. Yogyakarta: Kanisius.

Kusmayadi, Eka & Etty Andriaty (2006). Kajian online public access catalogue (OPAC) dalam pelayanan perpustakaan dan penyebaran teknologi pertanian. 19 Februari 2011. http://pustaka.litbang.deptan.go.id/.

Pendit, Putu Laxman. 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan dan Dinamika. Jakarta: Citra Karyakarsa Mandiri.

Reitz, Joan M. (2004). Online dictionary for library and information science. USA: Library Unlimited.

Syihabuddin, Qalyubi, dkk, Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan Dan Informasi, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, 2007.

Wicaksono, Hendro et. all. Modul senayan versi 14. 23 Februari 2011. http://creativecommons.org/about/licenses/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s