RECALL DAN PRECISION DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI


recall (perolehan) precision (ketepatan) 2

recall (perolehan) & precision (ketepatan)

Pendit (2008) berpendapat bahwa OPAC sebagai mesin pencari informasi juga membawa persoalan tentang relevansi karena secanggih apapun sebuah mesin akan sulit untuk memahami rumitnya pikiran manusia. Sehingga ilmuwan berusaha untuk menciptakan formula agar bisa membuat sistem yang bisa diandalkan, mampu mengukur efektifitas sistem dalam memenuhi permintaan informasi serta dapat mengetahui informasi yang relevan dengan kebutuhan pengguna (pencari informasi) dalam sebuah sistem. Oleh sebab itu, akhirnya ilmuwan membuat rumus recall dan precision untuk mengukur efektifitas sistem temu kembali informasi. Continue reading

ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOGUE (OPAC): PENGANTAR


OPAC2

Corbin (1985) menyatakan bahwa OPAC merupakan katalog yang berisikan cantuman bibliografi dari koleksi satu atau beberapa perpustakaan, disimpan pada magnetic disk atau media rekam lainnya, dan dibuat tersedia secara online, dan sebagai sarana untuk dapat memeriksa status dari suatu bahan perpustakaan. Sedangkan Horgan (1994) menyatakan, OPAC adalah suatu sistem temu kembali informasi, dengan satu sisi masukan (input) yang menggabungkan pembuatan file cantuman dan indeks. Hal ini menghasilkan pangkalan data yang dapat ditelusur sebagai sisi keluaran (output) dari sistem. OPAC menyediakan akses umum kepada file pangkalan data yang dimiliki perpustakaan. Melalui OPAC pengguna berinteraksi untuk memeriksa isi file yang ada. Sementara itu Feather (1997) menyatakan bahwa OPAC adalah suatu pangkalan data cantuman bibliografi yang biasanya menggambarkan koleksi perpustakaan tertentu. Continue reading

SEJARAH PERKEMBANGAN ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOGUE (OPAC)


Don R. Swanson

Don R. Swanson

Shiao-Feng Su (1994) menyatakan, perkembangan sistem OPAC dipengaruhi oleh visi Don Swanson. Pada tahun 1964 Swanson menerbitkan artikel dengan judul Dialogues with Catalog, yang mempresentasikan pemikirannya tentang bagaimana seharusnya sistem katalog perpustakaan di masa mendatang. Swanson secara cemerlang menguraikan interaksi (dialogue) yang ideal diantara seorang pengguna perpustakaan dengan console,(suatu jenis terminal yang dapat menemu balikkan berbagai jenis informasi bibliografi, dan mungkin informasi lainnya). Melalui console, pengguna akan dapat berdialog dengan pangkalan data, dan melakukan penelusuran informasi. Pengguna diharapkan akan merasa puas terhadap dialog tersebut, karena informasi bibliografis yang dibutuhkan dapat diperoleh lebih cepat. Continue reading

KOMPONEN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI


pada prinsipnya menurut Houghton (1977) sistem temu kembali informasi adalah penelusuran yang merupakan interaksi antara pemakai dan sistem dan pernyataan kebutuhan pengguna diekspresikan sebagai suatu istilah tertentu. Selanjutnya dinyatakan bahwa komponen fundamental dari sistem temu kembali informasi adalah sebagai berikut:

  1. penyimpanan (storage), yaitu menyangkut analisis subjek oleh pengindeks dan penerjemahan dari istilah ke dalam bahasa pengindeksan oleh sistem.
  2. proses temu kembali (retrieval), yaitu berkaitan dengan analisis dan pernyataan penelusuran; penerjemahan pertanyaan dalam bahasa pengindeksan oleh sistem; serta formulasi dari strategi penelusuran diekspresikan sebagai suatu istilah tertentu.

Lancaster (1979) dan Doyle (1975) memandang sistem temu-kembali informasi dalam konteks siklus transfer informasi, mengatakan bahwa suatu sistem temu-kembali informasi merupakan subsistem (tahap luaran) dari sistem informasi. Lancaster juga mengatakan bahwa sistem temu-kembali informasi terdiri dari enam subsistem: Continue reading

JENIS, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI


Perkembangan Temu Kembali Informasi dari sisi user task ada 2 jenis yaitu:

  1. Model Klasik.
    1. Model Boolean : merupakan model sistem temu kembali informasi sederhana yang berdasarkan atas teori himpunan dan aljabar boolean
    2. Model Vector Space : merupakan model sistem temu kembali informasi yang merepresentasikan dokumen dan query dalam bentuk vektor dimensional
    3. Model Probabilistic : merupakan model sistem temu kembali informasi yang menggunakan framework probabilistik
  2. Model Terstruktur
    1. Non Overlapping List: Sistem yang menggunakan model ini akan membagi-bagi dokumen sebagai “wilayah teks” tertentu.
    2. Proximal Nodes: model ini menggunakan struktur indeks yang memiliki hirarki independen (non-flet) terhadap sebuah dokumen.

Taksonomi model sistem temu kembali informasi

Model IR

Model IR

Continue reading

DEFINISI SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI


001

Menurut Kochen yang dikutip oleh Pendit (2008) dalam kamus bahasa inggris, kata retrieve berhubungan dengan 2 hal yaitu upaya untuk mengingat dan upaya mencari sesuatu untuk dipakai kembali. Kochen juga menjelaskan, kata retreve yang dikaitkan dengan IR (Information retrieval) yaitu upaya membantu pengguna sistem komputer menemukan dokumen yang dicari. Lebih spesifik lagi, kemampuan komputer tersebut dikaitakan dengan recall (mengingat). Pendit (2008) menambahkan, dalam bahasa indonesia kata retrieve diterjemahkan menjadi temu kembali. Jadi kata Information Retrieval diterjemahkan sebagai temu kembali informasi. Continue reading

PERKEMBANGAN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI


1. Periode Peningkatan Kebutuhan (Increased Demand) 1940 – 1950an.

Hans Peter Luhn

Hans Peter Luhn

Periode ini adalah saat terjadinya perang Dunia ke 2 dimana muncul keperluan untuk laporan dan dokumen teknis dari penelitian yang menyangkut persenjataan. Akibatnya pertumbuhan laporan meningkat pesat dan membuat laporan tersebut sulit ditemukan apabila dibutuhkan. Padahal pada saat itu sudah menggunakan skema klasifikasi dan subject heading (urutan abjad dan hirarkis) namun cara lama tersebut dianggap tidak bisa mengatasi permasalahan dan juga pengerjaannya dilakukan secara manual jadi tidak efisien. kejadian ini membuat Vannevar Bush risau dan mengajak orang berpikir bagaimana membuat sistem simpan dan temu kembali yang efisien. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1948, Hans Peter Luhn menciptakan electronic searching selector dan karena penemuannya itu, dia dianggap sebagai orang pertama yang membuat aplikasi komputer untuk bidang temu kembali informasi. Lalu perkembangan selanjutnya pada tahun 1951, Alberto F. Tompson dan Mortimer Taube memperkenalkan coordinated indexes yang berbasis uniterm (keyword) dan mengaplikasikan logika boolean yang diterapkan pada bidang komputer. Continue reading